06 Juli 2026


Aku tidak pernah benar-benar paham
bagaimana seorang perempuan bisa tetap kuat
meski hidup terus mengurangi dirinya sedikit demi sedikit.

Ibu tidak pernah mengajarkan teori besar tentang ketabahan.
Ia hanya bangun lebih pagi dari rasa lelahnya sendiri,
menyapu hari seperti menyapu debu yang tak pernah habis datang.

Di rumah yang sederhana itu,
aku belajar bahwa cinta tidak selalu berbentuk pelukan
kadang ia berupa diam yang tetap menyiapkan makan malam,
meski dunia di kepalanya mungkin sedang runtuh pelan-pelan.

Ibu tidak banyak bertanya tentang masa depanku.
Barangkali karena ia tahu:
hidup sudah cukup keras tanpa harus ditambah ramalan.

Ada hal-hal yang tak pernah ia ucapkan,
tapi aku membacanya di tangan yang kasar,
di mata yang selalu selesai menangis sebelum aku sempat sadar.

Kini aku mengerti,
menjadi ibu bukan soal menjadi kuat,
tapi soal tidak punya pilihan untuk menyerah
dan tetap menyebut itu sebagai kehidupan yang biasa saja.

Jika suatu hari aku terlalu sibuk memahami dunia,
semoga aku tidak lupa:
ada seseorang yang dulu menukar mimpinya
agar aku bisa belajar mengeja masa depan.

Ibu,
kalau aku hari ini bisa berdiri,
itu bukan karena aku hebat
tapi karena ada yang diam-diam tidak jatuh
agar aku tidak ikut terjatuh.