Menulis Timur
Di timur kota,
matahari datang lebih lambat
karena harus melewati asap pabrik,
genangan jalan,
dan doa orang-orang yang berangkat pagi.
Bandoeng Timur bukan cerita tentang kemegahan,
ia lahir dari suara mesin,
dari sawah yang perlahan berubah alamat,
dari kampung yang belajar memakai baju kota
meski masih menyimpan bau tanah.
Di sini,
buruh pulang membawa lelah,
petani pulang membawa sabar,
guru pulang membawa cerita anak-anak
yang suatu hari mungkin pergi jauh
meninggalkan halaman tempat mereka tumbuh.
Rancaekek menyimpan hujan dan kenangan,
Cicalengka menyimpan jalan panjang,
Gedebage mengejar masa depan,
sementara kampung-kampung kecil
diam-diam menjaga masa lalu.
Bandoeng Timur,
kau bukan wajah yang sering dipajang,
bukan etalase kota yang penuh cahaya.
Kau adalah suara di belakang panggung,
tempat roda zaman berputar
dengan tangan-tangan yang jarang disebut.
Jika kota adalah puisi,
maka kau adalah bait yang kusut,
penuh coretan, penuh luka,
tapi justru di sanalah
manusia menulis dirinya sendiri.
Bandoeng Timur,
jangan terlalu cepat menjadi kota.
Sebab kadang yang hilang dari kemajuan
adalah hal sederhana:
bau tanah setelah hujan,
suara azan dari kampung,
dan ingatan bahwa kita pernah pulang.