Kita Membesarkan Anak dengan Cinta, tetapi Mewariskan Ketimpangan melalui Budaya
Ada sebuah ironi besar dalam sejarah manusia: institusi yang paling sering disebut sebagai tempat pertama belajar cinta, justru menjadi tempat pertama manusia belajar tentang hierarki.
Keluarga.
Kata itu terdengar suci, hangat, dan nyaris tidak boleh disentuh kritik. Ketika negara melakukan kekerasan, kita menyebutnya penindasan. Ketika pasar mengeksploitasi manusia, kita menyebutnya kapitalisme. Tetapi ketika ketimpangan diwariskan melalui keluarga, kita sering menyebutnya tradisi, nilai, bahkan kodrat.
Di sinilah kekuasaan menemukan tempat persembunyian paling sempurna.
Ia tidak selalu memakai seragam. Kadang ia memakai nama ayah.
Dalam sejarah panjang masyarakat patriarkal, ayah tidak hanya hadir sebagai individu, melainkan dibangun sebagai simbol. Ia menjadi kepala, pemimpin, pelindung, sekaligus pemilik otoritas. Sebuah posisi yang tidak hanya menjelaskan tanggung jawab, tetapi juga memberikan legitimasi kekuasaan.
Masalahnya bukan pada keberadaan ayah.
Masalahnya adalah ketika status ayah dianggap sudah cukup sebagai bukti kebajikan.
Seorang laki-laki dapat memperoleh penghormatan hanya karena menyandang gelar "ayah", sementara perempuan harus membuktikan dirinya setiap hari melalui kerja yang tidak pernah selesai.
Masyarakat memberikan mahkota kepada ayah, tetapi memberikan daftar kewajiban kepada ibu.
Ayah diberi simbol.
Ibu diberi beban.
Di sinilah patriarki bekerja dengan sangat halus. Ia tidak selalu hadir dalam bentuk larangan atau kekerasan terbuka, melainkan melalui kebiasaan kecil yang dianggap normal.
Siapa yang mengingat jadwal sekolah?
Siapa yang menghubungi guru?
Siapa yang mengetahui ketika anak sedang mengalami masalah?
Sering kali jawabannya adalah ibu.
Namun ketika ayah datang mengambil rapor sekali dalam satu semester, masyarakat bersorak seolah sebuah revolusi baru saja terjadi.
Betapa rendahnya standar yang diberikan kepada laki-laki, dan betapa luar biasanya beban yang diam-diam dipikul oleh perempuan.
Sosiologi keluarga menunjukkan bahwa pembagian peran tersebut bukanlah sesuatu yang alamiah, melainkan hasil konstruksi sosial yang berlangsung panjang.
Anak laki-laki dibentuk untuk menjadi pencari nafkah, sementara anak perempuan dibentuk untuk menjadi perawat kehidupan. Keduanya diarahkan menuju peran tertentu bahkan sebelum mereka mampu memilih jalan hidupnya sendiri.
Masyarakat kemudian menyebutnya sebagai "peran gender".
Padahal, sering kali ia hanyalah pembagian kerja yang diberi pakaian moral.
Kapitalisme kemudian memperkuat mekanisme tersebut. Sistem ekonomi modern membutuhkan pekerja yang dapat menjual waktunya sebanyak mungkin kepada pasar. Laki-laki didorong menjadi mesin produktivitas, sementara kerja domestik dipindahkan ke ruang privat dan dibuat seolah bukan kerja.
Mengasuh anak bukan dianggap pekerjaan.
Mendampingi pendidikan bukan dianggap pekerjaan.
Merawat emosi keluarga bukan dianggap pekerjaan.
Semuanya dilakukan atas nama cinta.
Dan justru karena memakai nama cinta, eksploitasi itu menjadi sulit terlihat.
Inilah kekuatan ideologi: ia tidak memaksa manusia melalui ancaman, tetapi membuat manusia menerima bahkan mencintai posisi yang membatasi dirinya.
Namun, ayah pun sebenarnya menjadi korban dari sistem yang sama.
Patriarki memang memberikan privilese kepada laki-laki dalam banyak aspek, tetapi sekaligus menciptakan penjara maskulinitas.
Laki-laki diajarkan bahwa nilai dirinya berada pada kemampuan menghasilkan uang. Mereka diajarkan bahwa kelembutan adalah kelemahan, pengasuhan adalah wilayah perempuan, dan keterlibatan emosional bukan bagian dari identitas laki-laki.
Akhirnya lahirlah tragedi modern: seorang ayah dapat hadir sepanjang hidup anaknya secara biologis, tetapi absen dalam pengalaman hidup anaknya.
Ia membayar masa depan anaknya, tetapi kehilangan proses anaknya tumbuh.
Ia membangun rumah, tetapi tidak selalu memiliki waktu untuk tinggal di dalam kehidupan rumah tersebut.
Namun masyarakat tetap memberinya gelar sebagai ayah yang bertanggung jawab.
Sebab dalam budaya patriarki, menyediakan materi sering kali dianggap lebih penting daripada hadir secara emosional.
Padahal manusia tidak hanya membutuhkan biaya hidup.
Manusia membutuhkan hubungan.
Anak tidak mengenang masa kecilnya melalui jumlah tagihan yang dibayar orang tua. Anak mengingat suara, percakapan, perhatian, dan siapa yang datang ketika ia membutuhkan seseorang.
Karena itu, kritik terhadap patriarki bukanlah serangan terhadap keluarga. Justru sebaliknya, kritik adalah bentuk penghormatan agar keluarga tidak berubah menjadi museum tradisi yang menyimpan ketidakadilan.
Keluarga bukan tempat yang bebas dari politik.
Keluarga adalah politik pertama yang dialami manusia.
Sebelum mengenal negara, manusia mengenal otoritas di rumah.
Sebelum memahami hukum, manusia belajar aturan di keluarga.
Sebelum mengenal ketimpangan sosial, manusia belajar siapa yang boleh memerintah dan siapa yang harus melayani.
Maka pertanyaan paling penting bukan lagi:
"Apakah ayah sudah mengambil rapor?"
Pertanyaan yang lebih radikal adalah:
- Mengapa masyarakat masih menganggap keterlibatan ayah sebagai prestasi, sementara pengorbanan ibu dianggap kewajiban?
- Mengapa otoritas diwariskan kepada satu pihak, sementara kerja kehidupan dibebankan kepada pihak lain?
- Mengapa keluarga yang disebut suci justru sering menjadi tempat pertama di mana ketidakadilan dibuat terlihat normal?
Sebab mungkin masalah terbesar bukan ketika ayah tidak hadir.
Masalah terbesar adalah ketika sebuah kebudayaan telah mengajarkan bahwa ketidakhadiran itu dapat dimaafkan, bahkan dihormati.
Selama masyarakat masih menyamakan kelelakian dengan kekuasaan, serta keibuan dengan pengorbanan tanpa batas, maka rumah bukan hanya tempat manusia dilahirkan.
Rumah juga akan terus menjadi tempat pertama di mana manusia belajar tentang siapa yang berkuasa dan siapa yang harus menanggung beban.
