06 Juli 2026

Kemarin aku kembali ke kampus. Yang paling mencuri perhatian bukan bangunannya, melainkan sebuah coretan baru di dinding kantin: "Bebaskan Tahanan Politik."

Kalimat itu sederhana, tetapi sanggup membuka kembali lorong-lorong ingatan. Seolah kampus mengingatkanku bahwa ia tidak pernah benar-benar berhenti menjadi ruang bagi gagasan, perdebatan, dan keberanian menyampaikan sikap.

Aku bertanya pada diri sendiri, apakah dunia telah mengubahku? Atau justru aku yang perlahan menjauh dari cara berpikir yang dulu kubanggakan?

Ada masa ketika setiap poster, diskusi, dan coretan di dinding terasa seperti undangan untuk berpikir lebih dalam. Kini hidup dipenuhi tenggat waktu, pekerjaan, dan tanggung jawab. Idealisme tidak selalu hilang, tetapi sering kali tertimbun oleh rutinitas.

Aku tahu waktu tak bisa diputar kembali. Namun melihat satu kalimat di tembok kantin membuatku sadar bahwa mungkin yang kurindukan bukan masa muda, melainkan keberanian untuk tetap berpikir merdeka. Bukan agar selalu sepakat dengan setiap slogan yang terpampang, tetapi agar tidak kehilangan kebiasaan untuk bertanya, menguji, dan mencari kebenaran.

Barangkali dunia memang mengubah banyak hal. Tetapi selama akal masih mau berpikir dan hati masih mau gelisah melihat kenyataan, barangkali masih ada bagian dari diriku yang tetap tinggal di kampus itu.