Mahasiswa Sosiologi Itu Aneh: Sejarah Diurus, Ekonomi Dibahas, Wisuda Ditunda
Linimasa X lagi ramai.
Bukan soal Timnas.
Bukan juga soal diskon tanggal kembar.
Melainkan film Pengkhianatan G30S/PKI. Seperti biasa, setiap kali film itu muncul, mendadak semua orang menjadi sejarawan. Ada yang hafal kronologi, ada yang hafal dialog filmnya, ada yang hafal teori konspirasi, dan tentu saja ada yang paling hafal menyalahkan orang lain.
Saya?
Saya cuma membaca sambil senyum-senyum.
Sebab sampai hari ini saya belum pernah benar-benar berani menonton film itu sampai selesai.
Bukan karena takut adegan penyiksaannya.
Saya lebih takut setelah film selesai, saya malah membuka buku lagi.
Lalu jurnal.
Lalu arsip.
Lalu lupa kalau besok harus bekerja.
Trauma itu berawal dari masa kuliah.
Saya kuliah di Sosiologi.
Perhatikan baik-baik.
Sosiologi.
Bukan Sejarah.
Bukan pula Arkeologi.
Tapi entah setan akademik mana yang membisikkan sesuatu ke telinga saya waktu itu, saya malah memilih topik yang mengharuskan saya berkubang di bab sejarah.
Kalau dipikir sekarang, keputusan itu setara dengan orang yang masuk warung cuma mau beli es teh, tapi pulangnya bawa galon.
Awalnya saya pikir sederhana.
"Ah, sejarah cuma buat latar belakang."
Kalimat itu belakangan saya masukkan ke daftar kebohongan terbesar yang pernah saya ucapkan kepada diri sendiri.
Karena ternyata sejarah itu seperti membuka Wikipedia jam sebelas malam.
Satu artikel membawa ke artikel lain.
Tokoh A terkait dengan Tokoh B.
Tokoh B membawa ke Peristiwa C.
Peristiwa C mengantar ke arsip.
Arsip itu mengutip buku.
Buku itu menyuruh membaca buku lain.
Tahu-tahu ayam subuh sudah berkokok.
Saya masih duduk dengan mata merah sambil berkata,
"Sebentar lagi selesai."
Padahal yang selesai cuma stok kopi.
Teman-teman mulai seminar proposal.
Saya masih sibuk mencari referensi.
Teman-teman mulai penelitian.
Saya masih memperdebatkan latar belakang.
Teman-teman mulai sidang.
Saya masih sibuk membedakan mana sumber primer, mana sumber sekunder, mana sumber yang ternyata cuma mengutip sumber lain.
Kalau ada lomba membaca daftar pustaka, saya mungkin pulang membawa medali.
Lalu datanglah pertanyaan yang paling sering saya dengar.
"Lho, kamu kan anak Sosiologi. Ngapain ngurusin sejarah?"
Saya biasanya menjawab dengan sok akademis.
"Karena masyarakat hari ini dibentuk oleh masa lalu."
Padahal jawaban yang lebih jujur adalah,
"Karena saya terlalu penasaran."
Dan rasa penasaran itu mahal.
Bayarnya pakai semester.
Di titik paling putus asa, saya mulai berpikir hidup ini harus disederhanakan.
Saya menatap laptop.
Saya menatap rak buku.
Saya menatap langit-langit kamar kos.
Lalu muncul ide yang sekarang kalau diingat membuat saya ingin minta maaf kepada dosen pembimbing.
Bagaimana kalau skripsinya membahas SpongeBob SquarePants saja?
Jangan ketawa dulu.
Saya sudah punya argumennya.
Tuan Krabs adalah kapitalis.
Squidward adalah buruh yang mengalami alienasi akut.
SpongeBob adalah pekerja teladan yang terlalu mencintai pekerjaannya sampai lupa menuntut hak normatif.
Patrick? Ya... warga yang tidak sadar sedang hidup di bawah struktur, karena lebih sibuk tidur di bawah batu.
Plankton adalah oposisi yang modalnya cuma tekad.
Semakin saya menyusun kerangka berpikirnya, semakin saya merasa Karl Marx pasti diam-diam pernah liburan ke Bikini Bottom.
Saya benar-benar hampir percaya ide itu layak diajukan.
Untung saya masih punya rasa malu.
Saya batalkan niat tersebut sebelum dosen pembimbing kehilangan kesabaran.
Akhirnya saya mengambil keputusan yang saya kira jauh lebih waras.
Saya tinggalkan lorong sejarah.
Saya memilih menulis tentang kemiskinan struktural akibat industrialisasi.
Saya pikir hidup saya akan lebih tenang.
Nyatanya saya cuma pindah jenis penderitaan.
Kalau sebelumnya saya dikerjai sejarah, sekarang saya dikeroyok teori.
Marx datang membawa perjuangan kelas.
Weber mengajak memahami tindakan sosial.
Durkheim menjelaskan fakta sosial.
Belum selesai membaca mereka bertiga, muncul lagi teori ketergantungan, teori modernisasi, teori konflik, teori sistem dunia, dan entah teori apalagi yang semuanya merasa paling penting untuk dibaca.
Saya mulai sadar bahwa mahasiswa Sosiologi bukan kekurangan teori.
Mahasiswa Sosiologi kekurangan waktu.
Skripsi itu akhirnya selesai juga.
Lulus.
Wisuda.
Saya pikir penderitaan akademik sudah berakhir.
Saya salah lagi.
Bertahun-tahun kemudian saya menjadi guru.
Lalu datang program PPG Guru Tertentu.
Saya membuka pengumuman.
Mata saya membaca perlahan.
Bidang studi...
Sejarah.
Saya ulangi lagi.
Sejarah.
Anyingkan?
Dulu saya susah payah kabur dari bab sejarah.
Saya banting setir ke kemiskinan struktural akibat industrialisasi supaya hidup lebih damai.
Semesta rupanya cuma tertawa kecil.
"Lari saja dulu. Nanti juga balik lagi."
Sekarang saya kembali membaca kronologi.
Kembali menghafal tokoh.
Kembali membuka buku-buku sejarah.
Bedanya, kalau dulu membaca sejarah supaya cepat sidang, sekarang membaca sejarah supaya lolos PPG.
Saya akhirnya percaya bahwa hidup punya selera humor yang sangat aneh.
Seorang mahasiswa Sosiologi yang nyasar ke sejarah.
Nyaris menulis skripsi tentang SpongeBob dan teori perjuangan kelas.
Lalu banting setir membahas kemiskinan struktural akibat industrialisasi.
Eh, bertahun-tahun kemudian malah resmi belajar lagi di bidang Sejarah.
Jadi kalau hari ini ada yang bertanya kepada saya, "Kenapa anak Sosiologi bisa nyasar ke sejarah?"
Saya tidak akan menjawab dengan teori.
Saya cukup menjawab,
"Mungkin karena sejarah belum selesai dengan saya."
Dan kalau nanti selesai PPG ternyata saya disuruh mengajar IPS dengan porsi ekonomi lebih banyak?
Saya tidak akan kaget.
Saya sudah terlalu sering dikerjai alur cerita kehidupan.
Dibandingkan hidup saya, plot twist sinetron Indosiar terasa jauh lebih realistis.