06 Juli 2026


Sebuah Pledoi Seorang Mahasiswa Semi-Nomaden

"Pancasila bukan sekadar lima sila yang selesai dirumuskan. Ia adalah endapan sejarah, hasil dialektika panjang sebuah bangsa yang sedang mencari dirinya sendiri."

Saya tidak pernah masuk kelas Pancasila.

Kalimat itu mungkin cukup untuk membuat sebagian orang mengernyitkan dahi. Ada yang menganggap saya malas. Ada yang menganggap saya meremehkan dasar negara. Bahkan mungkin ada yang buru-buru menyimpulkan bahwa saya anti-Pancasila.

Tidak.

Saya justru terlalu menghormati Pancasila untuk sekadar menghafalnya.

Saya tidak pernah tertarik menjadikan Pancasila sebagai mata pelajaran yang selesai setelah ujian akhir semester. Bagi saya, jika Pancasila benar-benar sebuah filsafat, maka ia harus mampu menjawab pertanyaan, menerima kritik, bahkan diuji oleh sejarah. Sebab tidak ada filsafat yang hidup karena larangan bertanya.

Saya lebih tertarik mencari satu pertanyaan sederhana.

Bagaimana Pancasila lahir?

Pertanyaan itu membawa saya keluar dari ruang kuliah. Bukan menuju perpustakaan tempat yang, terus terang saja, tidak pernah benar-benar akrab dengan saya melainkan ke lapak buku bekas, kios fotokopian yang menjual buku-buku stensilan, sekretariat organisasi mahasiswa, kamar-kamar kos yang dipenuhi asap rokok dan tumpukan buku, hingga warung kopi tempat diskusi sering kali berlangsung sampai menjelang subuh.

Di sanalah kelas saya sebenarnya dimulai.

Tahun-tahun itu adalah masa yang menarik menjadi mahasiswa. Buku-buku yang dulu sulit ditemukan mulai kembali beredar. Tan Malaka, Soekarno, Hatta, Sutan Sjahrir, Pramoedya, Karl Marx, Max Weber, Antonio Gramsci, hingga C. Wright Mills berpindah tangan dari satu mahasiswa ke mahasiswa lain. Tidak semua orang sepakat dengan isi buku-buku itu. Justru karena itulah buku-buku itu layak dibaca.

Saya membaca bukan untuk mencari ideologi baru.

Saya membaca untuk memahami Indonesia.

Semakin banyak membaca sejarah, semakin saya sadar bahwa Pancasila bukanlah gagasan yang muncul secara tiba-tiba pada tanggal 18 Agustus 1945. Yang disahkan pada hari itu adalah rumusannya. Gagasannya sendiri telah tumbuh jauh sebelumnya, ditempa oleh kolonialisme, kemiskinan, perlawanan rakyat, dan perdebatan panjang para pemikir Indonesia.

Kolonialisme bukan hanya menghadirkan penjajahan politik.

Ia membentuk struktur sosial baru.

Politik Etis melahirkan kaum terdidik bumiputra.

Kapitalisme kolonial melahirkan buruh, pegawai, petani kecil, dan kelas menengah pribumi.

Kontradiksi-kontradiksi itu melahirkan kesadaran baru.

Kesadaran melahirkan organisasi.

Organisasi melahirkan perdebatan.

Dan dari perdebatan itulah perlahan lahir Indonesia.

Di situlah saya mulai memahami bahwa sejarah bangsa ini sesungguhnya adalah sejarah dialektika.

Tidak ada gagasan yang lahir sendirian.

Nasionalisme berdialog dengan sosialisme.

Islam berdialog dengan humanisme.

Tradisi Nusantara berdialog dengan modernitas.

Semuanya saling mengkritik, saling meminjam, saling mengoreksi.

Di tengah pusaran itu saya bertemu Tan Malaka.

Banyak orang mengenalnya hanya melalui kontroversi politiknya.

Saya justru tertarik pada MADILOG.

Bagi saya, MADILOG bukan kitab ideologi.

Ia adalah metode berpikir.

Materialisme mengajarkan agar kita memulai analisis dari kenyataan sosial, bukan dari angan-angan.

Dialektika menunjukkan bahwa perubahan lahir dari kontradiksi.

Logika menjaga agar kesimpulan dibangun melalui penalaran, bukan fanatisme.

Dari Tan Malaka saya belajar satu hal sederhana.

Jangan pernah menyembah sebuah gagasan.

Ujilah.

Setelah itu saya membaca Soekarno.

Di sana saya menemukan keberanian untuk berpikir dengan kaki berpijak di tanah Indonesia.

Soekarno tidak memaksakan teori Eropa mentah-mentah.

Ia melihat bahwa rakyat Indonesia bukan proletariat industri sebagaimana digambarkan Karl Marx.

Mayoritas rakyat Indonesia adalah petani kecil, nelayan, pengrajin, dan pedagang yang masih memiliki alat produksi sederhana, tetapi tetap hidup dalam struktur ekonomi kolonial yang menindas.

Dari kenyataan itu lahirlah Marhaen.

Marhaen bukan sekadar nama.

Ia adalah wajah sosial Indonesia.

Kemudian saya membaca Murba.

Saya menemukan dimensi lain.

Jika Marhaen menjelaskan struktur sosial rakyat Indonesia, maka Murba menjelaskan siapa yang menggerakkan sejarah.

Murba berbicara tentang rakyat sebagai subjek politik.

Rakyat bukan objek belas kasihan negara.

Bukan sekadar angka statistik.

Melainkan tenaga historis yang menentukan arah perubahan.

Semakin saya membaca, semakin saya merasa bahwa Murba dan Marhaen sesungguhnya sedang berbicara tentang manusia Indonesia dari dua sisi yang berbeda.

Marhaen menjelaskan kondisi sosialnya.

Murba menjelaskan kesadaran politiknya.

Yang satu menjelaskan mengapa rakyat tertindas.

Yang lain menjelaskan mengapa rakyat mampu mengubah sejarah.

Keduanya dipertemukan oleh dialektika.

Lalu saya bertemu Sutan Sjahrir.

Dari Sjahrir saya belajar bahwa keadilan sosial tidak cukup.

Keadilan harus berjalan bersama kebebasan.

Sosialisme yang membungkam demokrasi akan kehilangan kemanusiaannya.

Negara yang terlalu kuat dapat berubah menjadi penjara.

Revolusi yang kehilangan kritik hanya akan mengganti penguasa, bukan menghapus penindasan.

Di sinilah pembacaan saya mulai menemukan bentuknya.

MADILOG memberi saya metode berpikir.

Marhaenisme memberi saya pembacaan atas struktur sosial Indonesia.

Murba mengajarkan bahwa rakyat adalah pelaku sejarah.

Sjahrir mengingatkan bahwa emansipasi harus berjalan bersama demokrasi dan kebebasan.

Lalu di mana posisi Pancasila?

Bagi saya, Pancasila bukan lawan dari semua pemikiran itu.

Pancasila adalah sintesis.

Bukan sintesis dalam arti menghapus perbedaan.

Melainkan sintesis karena berhasil menyarikan nilai-nilai yang lahir dari pergulatan sejarah bangsa Indonesia.

Yang saya pahami, Pancasila adalah intisari ideologi bangsa yang lahir dari dialektika perjuangan kerakyatan Indonesia.

Ia bukan kemenangan nasionalisme atas sosialisme.

Bukan kemenangan agama atas sekularisme.

Bukan pula kemenangan negara atas rakyat.

Ia adalah titik temu dari berbagai arus pemikiran yang sama-sama berusaha menjawab satu pertanyaan besar: bagaimana manusia Indonesia dapat hidup merdeka, bermartabat, demokratis, dan berkeadilan.

Karena itu saya tidak pernah merasa membaca Tan Malaka membuat saya menjauhi Pancasila.

Sebaliknya.

Tan Malaka membantu saya memahami metode berpikir.

Soekarno membantu saya memahami realitas sosial Indonesia.

Sjahrir mengingatkan saya akan pentingnya demokrasi.

Dan Pancasila menjadi horizon etik yang merangkum semuanya dalam cita-cita kebangsaan.

Barangkali karena itulah saya tidak pernah benar-benar tertarik pada kelas Pancasila yang hanya meminta saya menghafal rumusan-rumusannya.

Saya lebih tertarik menelusuri genealogi yang melahirkannya.

Sebab saya percaya, dasar negara yang besar tidak lahir dari hafalan.

Ia lahir dari keberanian sebuah bangsa untuk berpikir.

Catatan Penutup

Dengan segala hormat, pledoi ini tidak ditulis sebagai pembenaran atas pilihan pribadi saya, apalagi sebagai upaya menghakimi cara orang lain belajar Pancasila. Tulisan ini hanyalah sebuah pembacaan yang lahir dari kegelisahan seorang mahasiswa yang lebih sering belajar dari buku-buku bekas, diskusi semalam suntuk, dan perdebatan yang tidak selalu menemukan kesimpulan.

Apabila ada kritik, sanggahan, atau tafsir yang berbeda, saya justru menyambutnya. Sebab saya percaya, Pancasila tidak akan menjadi lemah karena diperdebatkan secara ilmiah. Sebaliknya, ia akan tetap hidup ketika terus dibaca melalui sejarah yang melahirkannya, melalui dialektika yang membentuknya, dan melalui kenyataan sosial yang terus berubah.

Maka anggaplah tulisan ini bukan sebuah kata akhir.

Ia hanyalah undangan untuk memulai kembali percakapan yang barangkali terlalu lama kita anggap telah selesai.

Gelar Aulia
Mahasiswa Semi-Nomaden
Manisi, Juli 2010