
Mari kita jujur dan buang
jauh-jauh bumbu retorika manis. Kalau hasil TKA (Tes Kemampuan Akademik)
hancur-hancuran, menuduh siswa kurang belajar adalah bentuk kemalasan berpikir
yang luar biasa hakiki. Nyaman sekali, bukan? Menyalahkan bocah belasan tahun
atas hancurnya sistem. Padahal, yang sebenarnya terjadi jauh lebih telanjang.
Sistem pendidikan kita sedang memamerkan koreng ketimpangannya sendiri, sambil
tetap genit bersembunyi di balik jargon mentereng bernama “Standar Nasional”.
Paulo Freire, kalau masih
hidup, mungkin sudah lelah geleng-geleng kepala melihat kenaifan ini. Beliau
pernah menulis dengan sangat gamblang bahwa education is never neutral. Pendidikan itu tidak
pernah suci, bersih, dan netral karena ia selalu punya kubu. Jadi, alih-alih
bertanya dengan nada sok polos mengenai alasan anak-anak kita gagal, pertanyaan
yang lebih waras adalah ke kelas sosial mana sebenarnya sistem ini sedang
mencari muka.
Tapi mari kita pinggirkan
dulu analisis permukaan ini, dan menyelam ke dalam realitas yang lebih dingin
dan keras: dialektika materialisme.
Dalam kacamata Karl Marx,
ruang kelas itu bukan tempat suci penuh moralitas tempat malaikat membagikan
ilmu, melainkan sekadar superstructure
alias sebuah bangunan atas yang fondasi betonnya adalah base ekonomi. Cara kita belajar, cara kita diuji,
bahkan cara kita dicap gagal, semuanya disetir oleh struktur produksi sosial
yang timpang.
Dalam The German Ideology, Marx menyindir bahwa ide-ide yang
dianggap adil dan dominan di setiap zaman sebenarnya cuma ide-ide milik kelas
penguasa yang egois. Jadi, tolong jangan naif. Standar pendidikan nasional itu
tidak jatuh dari langit karena berkah ilahi, melainkan didesain oleh kelas
elite yang panik dan ingin memastikan posisi nyaman mereka tidak direbut oleh
sembarang orang.
Di titik ini, narasi romantis
tentang kegagalan siswa karena kurang berdoa dan berusaha langsung runtuh
total. Kalau dari awal panggung sosialnya sudah miring, maka hasil ujian yang
timpang bukanlah sebuah kecelakaan, melainkan kesuksesan logis dari sistem yang
bekerja sesuai pesanan.
Louis Althusser bahkan punya
nama yang lebih seksi untuk sekolah, yaitu Ideological State Apparatus atau alat cuci otak
negara yang bekerja tanpa perlu memukul pakai tongkat, melainkan cukup dengan
normalisasi. Sekolah tidak perlu menampar wajahmu. Mereka cukup mendefinisikan
apa itu pintar, apa itu berhasil, dan siapa yang layak masuk kasta atas.
Dalam logika ini, ujian
seperti TKA bukan sekadar alat ukur kecerdasan, melainkan mesin filter sosial
yang sangat halus. Ia menyaring, mengotak-ngotakkan manusia, lalu membuat
masyarakat maklum dan menganggap wajar kegagalan tersebut tanpa pernah
mempertanyakan sistemnya.
Berhentilah bersikap imut
dengan percaya pada ilusi paling menidurkan di abad ini bahwa angka dan nilai
ujian itu objektif. Angka tidak pernah perawan karena ia selalu diproduksi oleh
desain sosial yang penuh kepentingan.
Ketika para pengamat
pendidikan berkata bahwa kita harus melihat latar sosial siswa sebagai realitas
dan bukan sekadar catatan kaki, itu terdengar sangat progresif dan keren untuk
dijadikan status media sosial. Tapi dalam perspektif materialisme historis,
latar sosial itu bukan sekadar catatan kaki di bagian bawah halaman, melainkan
panggung utamanya, lengkap dengan lampu sorotnya.
Anak dari keluarga
konglomerat atau pejabat yang punya akses ke modal ekonomi dan bimbingan
belajar premium seharga motor matic tidak sedang menjadi lebih rajin ketimbang
anak petani di pelosok. Mereka cuma sedang berdiri di medan perang yang berbeda
secara historis. Di satu sisi, anak kelas elite dibekali modal budaya, fasilitas
gawai terbaru, dan buku impor, sehingga mereka dengan mudah meraih skor TKA
tinggi dan dicap pintar. Di sisi lain, anak kelas bawah harus membagi fokus
untuk bertahan hidup hari demi hari dengan fasilitas seadanya, lalu dicap
kurang belajar saat skor mereka jeblok.
Pierre Bourdieu menyebut
fenomena ini sebagai ketimpangan cultural
capital atau modal budaya. Ini adalah warisan tak kasat mata yang
diturunkan di meja makan keluarga kelas atas, mulai dari cara berpikir,
kekayaan kosakata, cara berbicara, hingga rasa percaya diri yang tinggi saat
menghadapi lembar kertas ujian.
Maka, ketika negara dengan
sok adil menyamakan standar ujian untuk kedua kelompok yang kontras ini, negara
sebenarnya sedang melakukan lelucon terbesar, yaitu menutupi ketidaksamaan yang
nyata di lapangan dengan formalitas administratif yang dipaksakan.
Lalu, para birokrat dengan
wajah teduh berkata bahwa penilaian ini adalah refleksi dan bukan hukuman.
Pertanyaannya, itu refleksi wajah siapa? Apakah ini refleksi sistem atas
potensi individu, atau sebenarnya eufemisme dari kalimat bahwa pemerintah gagal
menyediakan fasilitas yang rata, lalu melimpahkan kesalahan tersebut ke pundak
siswa sebagai kegagalan pribadi mereka?
Selama hasil akhir dari
sebuah penilaian masih menciptakan kasta dan hierarki sosial, ia akan tetap
berfungsi sebagai algojo seleksi sosial. Ia bukan sekadar cermin untuk berkaca,
melainkan pintu gerbang berbayar yang sialnya tidak semua orang lahir dengan
memegang kunci yang sama.
Kita juga sering mendengar
kalimat sok ilmiah lainnya bahwa kegagalan adalah data dan bukan stigma.
Kedengarannya sangat objektif and berbasis sains. Tapi justru di sinilah
jebakan batmannya karena dalam dunia yang menyembah berhala bernama data,
manusia sangat mudah disederhanakan menjadi grafik di layar proyektor saat
rapat evaluasi.
Masyarakat yang miskin dan
kelaparan diringkas menjadi angka bawah yang menyedihkan. Mereka yang
tertinggal karena tidak punya sinyal internet dianggap sebagai outlier alias pencilan yang
boleh diabaikan dari statistik nasional. Sementara siswa yang gagal ujian
dimasukkan ke dalam kotak bernama deviation atau penyimpangan standar.
Bahasanya memang berubah
menjadi lebih sopan dan akademis, tapi struktur penindasannya tetap utuh tak
tersentuh. Di sinilah dialektika materialisme memberikan tamparan keras yang
bikin sadar bahwa kalau kondisi material dan ekonomi tidak diubah, perubahan
istilah puitis tidak akan mengubah relasi kuasa karena itu cuma mengganti
kostum badutnya saja.
Maka, kritik kita sebenarnya
jauh lebih mengerikan ketimbang sekadar mengemis agar pendidikan menjadi lebih
humanis. Faktanya, pendidikan kita saat ini berfungsi dengan sangat baik
sebagai mesin reproduksi ketimpangan yang dibungkus dengan pita merah muda bernama
humanisme.
John Dewey dahulu barangkali
terlalu optimis saat membayangkan pendidikan sebagai proses demokratis yang
hidup dan membebaskan. Sebab, apa yang kita lihat hari ini adalah distopia yang
nyata berupa pendidikan yang sangat administratif, sangat gila dokumen, sangat
obsesif terhadap angka komputer, dan ajaibnya justru semakin asing dari
manusianya sendiri.
Mungkin kita butuh
keberanian untuk menertawakan ini dengan keras. Selama pendidikan masih
menyembah logika kuantifikasi yang kaku, ia akan selalu gagal melihat manusia
secara utuh. Bukan karena manusia itu terlalu rumit untuk dipahami, melainkan
karena sistemnya saja yang terlalu malas dan terlalu menyederhanakan segalanya
menjadi lembar jawab komputer.
Ketika sistem sudah terlalu
sibuk menghitung untung-rugi dan statistik kuota, ia jelas tidak punya waktu
lagi untuk memahami apa artinya menjadi manusia. Selamat menikmati angka-angka
Anda di dalam spreadsheet!
DAFTAR PUSTAKA
Althusser, Louis. (2015). Ideologi dan Alat Negara Ideologis.
Yogyakarta: Jalasutra.
Bourdieu, Pierre. (2010). Dominasi Maskulin. Yogyakarta:
Jalasutra.
Dewey, John. (2014). Demokrasi dan Pendidikan.
Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Fakih, Mansour. (2002). Jalan Lain: Manifestasi Pendidikan
Kritis untuk Perubahan Sosial. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Freire, Paulo. (2008). Pendidikan Kaum Tertindas.
Jakarta: LP3ES.
Marx, Karl dan Friedrich
Engels. (2001). The German
Ideology. Terjemahan. Surabaya: IPARK.
Topatimasang, Roem, dkk.
(2010). Pendidikan Popular:
Membangun Kesadaran Kritis. Yogyakarta: INSIST Press.