17 Mei 2026

Aku melihat langkahku
dan merasa seperti file excel rusak
yang dipaksa tetap dibuka tiap pagi.

Hidup ini lucu.
Dari kecil disuruh bermimpi tinggi,
pas gede malah disuruh realistis.
Sekolah ngajarin “jadilah dirimu sendiri,”
lalu dunia marah
kalau dirimu tidak menguntungkan.

Di halte-halte kehidupan
orang berdiri seperti mayat administrasi.
Ngopi supaya kuat kerja,
kerja supaya bisa ngopi lagi.
Perputaran ekonomi paling jujur
ternyata cuma lingkaran capek.

Aku muak pada motivasi
yang diketik orang sambil rebahan
dari iPhone cicilan.
Muak pada kalimat
“semua akan indah pada waktunya,”
karena kadang waktu cuma datang
buat nagih tagihan baru.

Tuhan pun mungkin geleng-geleng
melihat manusia modern:
punya ribuan teman digital
tapi ngobrol dengan diri sendiri saja takut.

Aku melihat langkahku.
Bukan seperti pejuang.
Lebih mirip office boy semesta
yang disuruh nganterin luka
dari satu hari ke hari lain.

Dan kota terus hidup
seperti mesin fotokopi setan:
menggandakan wajah lelah
dengan tinta yang makin pudar.

Kadang aku ingin jadi pohon saja.
Diam.
Tidak perlu ambisi.
Tidak perlu pencitraan.
Kalau ditebang pun setidaknya
masih bisa jadi kursi
buat manusia lain mengeluh.

Sementara kita?
Hancur pun sering tidak sempat.