Politik Nampan Makan: MBG dan Produksi Harapan di Tengah Kemiskinan Struktural
Guru sekaligus operator sekolah yang sehari-hari hidup di antara ruang kelas, sinkronisasi data, revisi dapodik, dan keyakinan bahwa pendidikan nasional kadang lebih sibuk memastikan tampilan sistem tetap hijau daripada memastikan orang-orang di dalamnya benar-benar baik-baik saja.
Penelitian ini berangkat dari dugaan sederhana bahwa Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak hanya bekerja sebagai kebijakan pemenuhan gizi peserta didik, tetapi juga sebagai medium produksi harapan sosial dalam pembangunan nasional kontemporer.
Program tersebut hadir dengan narasi besar mengenai generasi emas, peningkatan kualitas sumber daya manusia, serta transformasi masa depan bangsa melalui intervensi negara di ruang pendidikan. Negara tampak hadir langsung ke sekolah melalui menu makan, standar gizi, dan optimisme yang diproduksi secara terus-menerus dalam ruang publik.
Namun penelitian ini menduga bahwa di balik semangat tersebut, terdapat kecenderungan politik simbolik yang membuat kebijakan publik bergerak tidak hanya sebagai solusi sosial, tetapi juga sebagai pertunjukan kehadiran negara.
Pendekatan teoritik penelitian ini menggunakan perspektif Sajogyo mengenai kemiskinan struktural. Sajogyo menjelaskan bahwa kemiskinan tidak cukup dipahami melalui statistik pertumbuhan ekonomi atau bantuan sesaat, melainkan melalui kemampuan riil masyarakat memenuhi kebutuhan dasar hidup secara berkelanjutan. Pendekatan konsumsi beras per kapita yang digunakannya memperlihatkan bahwa kemiskinan adalah persoalan struktur kehidupan, bukan sekadar peristiwa lapar harian.
Dalam konteks tersebut, MBG berpotensi menjadi intervensi jangka pendek terhadap gejala kemiskinan tanpa sepenuhnya menyentuh akar penyebabnya. Peserta didik mungkin memperoleh makan bergizi di sekolah, tetapi tetap hidup dalam rumah tangga dengan pendapatan tidak stabil, pekerjaan informal, dan tekanan ekonomi yang terus dinegosiasikan dari bulan ke bulan.
Sebagai guru dan operator sekolah, penulis melihat bahwa sekolah sering menjadi ruang paling cepat menerima program, tetapi juga ruang paling lama memikul konsekuensi administratifnya. Setiap kebijakan datang membawa semangat perubahan, akun baru, formulir baru, dan laporan baru. Pendidikan akhirnya bergerak seperti sistem yang terus diperbarui, sementara perangkat keras sosial di bawahnya dipaksa tetap berjalan meski mulai panas dan kehabisan tenaga.
Narasi mengenai dampak ekonomi MBG juga diproduksi dengan sangat optimistis. Program ini disebut mampu membuka lapangan kerja, menggerakkan ekonomi lokal, dan memperkuat kesejahteraan masyarakat. Akan tetapi, penelitian ini menduga bahwa sebagian narasi tersebut berpotensi bergerak dalam wilayah simbolik apabila tidak disertai perubahan struktural yang benar-benar dirasakan masyarakat secara berkelanjutan.
Fenomena tersebut menunjukkan bahwa negara modern tidak hanya membangun kebijakan sosial, tetapi juga membangun suasana emosional kolektif. Program publik hari ini tidak cukup berjalan; ia juga harus terlihat berjalan. Harus terdokumentasi, terdistribusi di media digital, dan cukup meyakinkan untuk dipotong menjadi narasi optimisme nasional.
Sementara itu, guru tetap diminta menjadi motor perubahan pendidikan dengan kesejahteraan yang bergerak perlahan. Sekolah diminta inovatif di tengah persoalan fasilitas yang masih berjalan dalam pola tambal sulam. Rakyat diminta optimistis, seolah optimisme dapat menjadi lauk tambahan bagi kehidupan sehari-hari.
Dengan demikian, penelitian ini hendak melihat bahwa pembangunan pendidikan di Indonesia tidak hanya berlangsung dalam dimensi ekonomi dan kebijakan sosial, tetapi juga dalam dimensi simbolik yang memproduksi harapan secara terus-menerus. Sebab di negeri ini, masa depan sering diumumkan lebih cepat daripada kenyataan sempat menyusulnya.
Gelar Aulia, S.Sos.