Riuh yang Hilang, Diskursus yang Tersesat di Timeline
Ada masa ketika hidup terasa begitu berisik, tetapi dengan cara yang sehat. Berisik oleh perdebatan, bantahan, diskusi hingga larut malam, juga obrolan absurd di kantin kampus yang kadang lebih bernilai daripada satu semester penuh presentasi PowerPoint. Orang-orang ribut soal teori, politik, budaya pop, filsafat, sampai hal-hal receh yang tiba-tiba menjadi penting karena dipikirkan bersama.
Anehnya, semakin dewasa, suasana seperti itu justru makin sulit ditemukan.
Dunia setelah kampus ternyata berubah menjadi ruang administrasi yang besar. Hampir semua hal diukur dengan target, output, sertifikat, penilaian, dan profesionalisme yang sering terasa seperti topeng massal. Orang berbicara seperlunya, aman seperlunya, dan setuju seperlunya. Percakapan tidak lagi menjadi ruang untuk membuka pikiran, melainkan sekadar transaksi sosial demi menjaga citra dan posisi.
Mungkin itu sebabnya banyak orang diam-diam ingin kuliah lagi. Bukan semata-mata mengejar jabatan atau tambahan gelar. Kadang sesederhana ingin kembali memiliki alasan untuk membaca, mendengar pandangan yang berbeda, atau dipaksa berpikir di luar jalur rutin yang itu-itu saja. Sebab, rutinitas tanpa diskursus perlahan dapat membuat kepala ikut mengering.
Lucunya, sisa-sisa atmosfer itu kini justru sering ditemukan di tempat yang paling kacau: Twitter, yang sekarang bernama X. Tempat yang bisa sangat toksik, impulsif, penuh ego, bahkan kadang menyerupai pasar malam digital. Namun, di sela semua keributan itu, sesekali masih muncul percakapan yang hidup. Ada orang asing yang tiba-tiba membahas teori Gramsci di tengah utas sepak bola. Ada yang membedah kebijakan publik sambil bercanda receh. Ada pula yang saling membantah panjang tanpa perlu saling mengenal.
Memang melelahkan, tetapi setidaknya terasa nyata.
Masalah terbesar dunia hari ini mungkin bukan kurangnya informasi, melainkan hilangnya ruang berpikir yang jujur. Kita hidup pada zaman ketika semua orang tampak berbicara, padahal sebagian besar hanya sedang tampil. Linimasa dipenuhi motivasi instan, personal branding, kutipan sok bijak, dan optimisme artifisial yang diproduksi seperti konten pabrik. Semua harus tampak sukses. Semua harus tampak waras. Semua harus tampak produktif.
Padahal manusia membutuhkan ruang untuk bingung.
Manusia juga membutuhkan ruang untuk salah dan mempertanyakan hal-hal yang dianggap normal. Kampus dulu setidaknya dalam romantisme ingatan pernah menyediakan itu. Sebuah tempat ketika argumen terasa lebih penting daripada jabatan, dan rasa penasaran lebih dihargai daripada pencitraan.
Mungkin benar, yang dirindukan dari dunia akademik bukan gedungnya, bukan almamaternya, bahkan bukan gelarnya. Yang dirindukan adalah riuhnya. Riuh yang membuat kepala tetap hidup di tengah dunia yang makin penuh formalitas, kepalsuan, dan “tai kucing” yang dibungkus bahasa profesional.