Ode Terima Kasih untuk Bapak
Pak,
aku tidak selalu tahu cara yang rapi untuk berterima kasih.
Maka biarlah ini jatuh sebagai catatan yang tidak terlalu sempurna,
seperti hidup yang memang tidak pernah benar-benar selesai diperiksa.
Terima kasih sudah menjadi bapaku.
Bukan dalam versi yang besar dan diumumkan,
tapi dalam hal-hal yang justru sering tidak diberi nama:
cara kau pulang tanpa membawa semua lelah menjadi amarah,
cara kau tetap masuk kelas meski dunia di luar tidak selalu ramah,
cara kau membiarkan orang-orang di depanmu tetap manusia,
meski sistem sering mendorong sebaliknya.
Aku ingat atau mungkin aku hanya menyerapnya tanpa sadar
bahwa kau tidak pernah menjadikan hidup sebagai lomba menjadi paling keras.
Kau lebih seperti orang yang menjaga agar sesuatu tidak hilang:
sedikit kesabaran, sedikit ruang, sedikit waktu untuk orang lain bernapas.
Di dunia yang suka tergesa,
kau tidak selalu ikut berlari.
Dan anehnya, itu tidak membuatmu kecil.
Hanya membuatmu terlihat seperti tempat orang lain bisa kembali duduk sebentar.
Bapak,
aku tidak mewarisi semuanya dengan rapi.
Ada bagian yang tersisa setengah jadi,
ada yang masih berjalan pelan,
ada yang mungkin terlihat terlalu santai untuk dianggap serius.
Tapi di balik itu,
ada satu hal yang tidak berubah:
cara melihat manusia lain tidak sebagai angka yang harus cepat selesai,
melainkan sebagai sesuatu yang sedang berjalan,
meski lambat, meski tidak sempurna.
Terima kasih sudah menjadi bapaku,
yang mengajar bukan hanya di depan kelas,
tapi di cara sederhana untuk tidak kehilangan kemanusiaan di tengah pekerjaan apa pun.
Dan mungkin itu saja yang bisa benar-benar bertahan lama:
bukan metode, bukan sistem,
tapi cara seseorang tetap memperlakukan orang lain dengan hati yang tidak buru-buru menghakimi.