12 Juni 2026


Bandung,
kau selalu pandai menyembunyikan luka
di balik kopi, hujan, dan lagu jalanan.
Orang datang memujimu sebagai kota kenangan,
sementara gang-gangmu menghafal
suara knalpot, teriakan pedagang,
dan mimpi yang pulang tanpa upah.

Di bawah lampu kota
yang menyala lebih cepat daripada harapan,
orang-orang kecil memanggul senja
di pundak yang tak pernah tercatat sejarah.

Mereka berjalan
dengan telapak kaki yang hafal debu,
dengan tangan yang kasar oleh waktu,
dengan mata yang tetap menanam esok
meski langit berkali-kali gagal memberi hujan.

Di rel kereta
yang memanjang seperti doa,
matahari turun perlahan,
membawa jingga yang tak pernah masuk koran,
namun singgah di dada buruh,
petani, nelayan,
dan ibu yang menghitung beras
lebih teliti daripada menghitung usianya sendiri.

Bandung, brengsek.
Kau membuat orang jatuh cinta
pada kemacetan, trotoar retak,
dan kenangan yang tak pernah selesai.
Kau mengajari kami
bahwa hidup bisa sesak,
namun tetap dipaksa bernyanyi.

Wahai anak-anak,
ingatlah,
sepotong nasi adalah perjalanan panjang
dari lumpur sawah,
dari ombak yang mengguncang perahu,
dari peluh yang menetes diam-diam
tanpa tepuk tangan.

Laki-laki bertelanjang dada itu
masih mendorong hari ke bukit berikutnya.
Perempuan yang memikul sayur
di subuh buta
masih percaya matahari akan adil.
Petugas jalan,
pengayuh becak,
penjual gorengan,
semuanya sedang menulis puisi
dengan bahasa yang tak diajarkan di sekolah.

Kota boleh meninggi
dengan beton dan baliho,
namun akar-akar kehidupan
tetap menyusup ke tanah yang lembap,
mencari air bagi masa depan
yang mungkin tak pernah mereka nikmati.

Dan ketika malam benar-benar datang,
tak ada yang lebih indah
daripada pulang membawa lelah
ke rumah yang sederhana,
tempat cinta tidak pernah meminta banyak,
selain agar semua kembali dengan selamat.

Bandung, brengsek.
Karena di kotamu
orang miskin tetap bermimpi,
orang kalah tetap tersenyum,
dan matahari selalu tenggelam
seolah besok tak ada lagi dunia
padahal esok pagi
mereka akan kembali bangun,
menggendong hidup yang sama,
dengan harapan yang tetap keras kepala.