memorabilia amnesia sosiologi Uin bandung 2008
Mereka itu semacam eksperimen sosial yang kebetulan diberi NIM.
Di kampus, mereka hidup berpindah-pindah seperti teori yang belum selesai: kadang di kelas, kadang di kosan Dua Saudara, kadang di Al Fatal, kadang nyangkut di Jati, dan kalau lagi serius sedikit nongkrong di bawah pohon dekat Iqomah. Kalau lagi agak “politik”, ya pindah ke tiang bendera depan gerbang lama rektorat. Kalau lagi merasa pinter, ke Student Center. Kalau lagi merasa hidup ini absurd, ya ke mana saja yang ada kursi kosong.
Mereka itu tipe mahasiswa yang kalau diam bukan berarti setuju, tapi sedang menyusun bantahan.
Di Iqomah, diskusi itu seperti air mengalir. Tidak ada format. Tidak ada moderator. Tidak ada kesimpulan. Kadang dari sastra loncat ke filsafat, dari filsafat loncat ke politik, dari politik loncat ke curhat, lalu balik lagi ke sastra. Semuanya dianggap valid, selama ada yang masih mau ngomong.
Di tiang bendera depan gerbang lama rektorat, suasana berubah. Itu bukan lagi diskusi, itu sudah semi-parlemen. Ada orasi kecil-kecilan, ada debat yang tidak diminta, ada opini yang merasa paling benar, dan ada orang-orang yang sebenarnya cuma lewat tapi ikut jadi penonton ideologi.
Lalu ada Facebook.
Nah ini bagian paling berbahaya.
Di Facebook, Sosiologi 2008 itu seperti tidak pernah tidur. Diskusi yang belum selesai di kampus, dibawa pulang. Yang belum selesai di kosan, di-upgrade jadi status. Yang masih setengah matang, dipanaskan lagi di kolom komentar.
Kadang mereka bikin jadwal diskusi rutin. Iya, diskusi pakai jadwal. Serius. Ada tema. Ada pemantik. Ada yang sok-sok jadi oposisi. Ada juga yang cuma datang buat ngetes kesabaran orang lain. Semua berjalan seperti seminar, tapi tanpa sertifikat dan tanpa AC.
Mereka ngobrolin sastra, politik, sejarah, agama, sampai hal-hal yang sebenarnya tidak diajarkan di silabus tapi tetap terasa penting. Pramoedya dibaca seperti kitab sosial. Chairil dianggap teman seperjuangan. Marx kadang disalahkan, kadang dipuja, tergantung mood malam itu.
Dan di sela-sela itu semua, ada zine.
Zine itu semacam bukti bahwa mereka pernah merasa pikirannya penting.
Dicetak seadanya. Kadang fotokopian buram. Kadang cover-nya lebih serius daripada isinya. Tapi justru di situ lucunya: semua orang seperti sedang bilang, “hei, aku pernah berpikir sesuatu, dan aku tidak mau itu hilang begitu saja.”
Sedikit narsis? Ya.
Tapi siapa sih yang tidak narsis kalau sudah jatuh cinta pada pikirannya sendiri?
Bedanya, mereka tidak menyimpannya di kepala. Mereka taruh di kertas. Karena mereka tahu, ingatan itu malas, tapi kertas lebih setia.
Sekarang mereka sudah tersebar. Ada yang jadi pegawai, guru, birokrat, pengusaha, atau apa saja yang dulu mungkin tidak masuk diskusi jam dua pagi.
Tapi kalau suatu hari nama Iqomah, Jati, Dua Saudara, Al Fathar, tiang bendera, Facebook jadul, atau zine itu disebut… biasanya ada jeda kecil.
Jeda itu bukan kosong.
Itu nostalgia yang sedang duduk sebentar di kepala, sambil bilang:
“dulu kita serius banget ya… padahal kita juga belum tentu ngerti apa-apa.”
Dan setelah itu biasanya ketawa kecil.
Soalnya memang begitu.
Masa itu bukan untuk diselesaikan.
Tapi untuk dikenang sambil sedikit malu, sedikit bangga, dan sedikit tidak percaya bahwa itu pernah terjadi.