03 Februari 2012
7.12 AM
Pagi membangunkanku dari lelap. Bukan Karena kokok ayam atau sinar matahari yang masuk melalui celah-celah fentilasi kamar, tetapi karena mereka memang membangunkanku.
Kejadian ini bukanlah yang pertama. Aku sudah lupa kapan pertama kali aku mengalami semua keanehan ini. Peralatan sekolah yang bisa berbicara, alat-alat elektronik, pohon, binatang, langit, semuanya seolah berbicara dengan ku. Tapi aku tak pernah membicarakan ini pada siapapun semenjak sahabatku memergoki ku sedang berbicara dengan sebuah pohon mahoni besar di depan sekolah. Dia menganggap ku gila, dia tidak mau mendengarkan penjelasan ku. Dan kami tidak pernah bersama-sama lagi, bahkan sekadar bertegur sapa pun tidak.
Kadang aku kasihan mendengar jeritan wajan –yang pantatnya sudah gosong– ketika mama menyiramnya dengan air sebelum badannya benar-benar dingin. Aku bilang, tunggu dingin dulu baru dicuci. Seperti mama yang melarang ku langsung mandi air dingin setelah seharian bermain panas-panasan di luar sana, nanti demam, katanya. Tapi mama tidak mau dengar. Katanya, nanti keburu dicuci sama nenek. Aku Cuma bisa melihatnya saja dari jauh tanpa bisa berbuat apa-apa. Aku juga tidak tega melihat pohon mahoni besar di depan sekolah yang ditebang beberapa hari lalu. Padahal dia yang selalu menyapaku lebih dulu sejak aku masuk sekolah itu. Kata orang yang menebangnya, ini untuk kepentingan bersama, biar bisa merasakan nyamannya penerangan di desa.
Bertahun-tahun aku tinggal di desa, sekarang tempat ini tak terasa mendesa. Sudah tidak ada bedanya dengan kota yang panas penuh polusi dan tentunya tidak sedikit suara-suara yang mengeluh. Bukan orang-orangnya yang mengeluh, tetapi pepohonan dan makhluk-makhluk lainnya.
Kadang ketika tengah malam, saat semua sudah sunyi, aku mendengar rintihan aspal kering yang sedikit gugus di jalan. Katanya, dia tak pernah bisa tenang walau sudah larut. Karena saat malam tiba, tak jarang sekelompok pembalap liar kebut-kebutan di atasnya itu, padahal ia ingin bisa berguna dalam jangka waktu yang panjang.
Awalnya aku merasa sendirian dengan semua keadaan ini. Aku merasa terasing karena tidak bisa berbagi dengan orang lain. Tetapi tak berapa lama dari sana, satu per satu aku bertemu dengan orang-orang yang juga memiliki pengalamann-pengalaman aneh seperti yang aku alami. Dan entah bagaimana, kami bisa saling tahu kalau kami sama. Entah itu sekadar papasan atau hanya bertemu mata, padahal kami sama sekali belum memperkenalkan diri satu sama lain.
Sebagian dari mereka memang tidak bisa berkomunikasi dengan makhluk lain atau benda mati seperti aku, tapi mereka memiliki kelebihan lain yang tidak ku miliki. Misalnya saja mereka bisa melihat dan berkomunikasi dengan makhluk dari dimensi lain, ada yang bisa astral projection –kemampuan untuk keluar dari tubuh, seperti tidur tetapi sebenarnya roh mu sedang melakukan perjalanan– lalu ada juga yang bisa menggerakkan benda-benda dengan kekuatan pikirannya, juga ada yang dapat menyerap kemampuan atau energi orang lain, berteleport dan masih banyak lagi. Kalau kalian pecinta komik atau penikmat film, tentunya kalian pernah menemukan beberapa cerita yang serupa dengan kami. Seperti misalnya saja komik Psychis atau serial Heroes. Dan misi terbesar kami adalah menyelamatkan dunia, ya, seperti itulah. Tapi karena hal itu terdengar terlalu ‘wah’, mustahil, jadi kami lebih suka mengatakannya dengan sebutan lain, ‘menolong sesama’.
Pada suatu hari, aku sedang duduk di warung kecil pinggir jalan sambil menikmati segelas dingin lemon tea. Di meja sebelah duduk dua orang pria dewasa, yang satu nampak separuh baya, rambutnya sudah banyak ditumbuhi uban, perutnya sedikit tambun, dan kumisnya yang cukup lebat berantakan. Satu orang lagi terlihat lebih muda darinya, mungkin sekitar 30-an usianya. Mereka duduk berhadap-hadapan dengan dua cangkir kopi hitam di depan masing-masing pria itu. Keduanya nampak sedang menghitung uang, entah memamerkan beberapa lembar uang seratus ribuan dan lima puluh ribuan di tempat kecil ini. Meski tidak ada perbincangan di antara mereka, aku masih saja mendengar suara-suara kecil mendesis panik. Awalnya ku pikir kedua pria itu berbisik-bisik karena takut uangnya dicuri atau bagaimana, tapi setelah ku tengok ke arah mereka, ternyata bukan. Yang satu tengah asyik mengepulkan asap dari mulutnya sambil membagi uang-uang itu menjadi dua gepok di meja itu.
Karena kurang kerjaan dan rasa penasaranku, akhirnya ku cermati juga suara-suara itu. Ternyata itu adalah suara dari uang-uang milik kedua pria itu. Mereka gelisah karena tidak tahu kapan mereka, mau tidak mau, harus memenuhi hasrat liar pria-pria itu. Entah itu bermain gila dengan wanita-wanita malam, bermain judi, atau sekadar minum-minuman beralkohol. Mereka risih ketika kedua pria itu menumpukan kebejatannya pada mereka. Salah satu dari lembaran-lembaran uang itu meringis. Katanya, harga diri mereka dipertaruhkan selama masih berada di tangan kedua orang itu. Mereka tidak pernah tenang, karena secara tidak langsung mereka dipaksa mengikuti nafsu orang-orang itu untuk berbuat tidak baik. Entah bagaimana cara menolong mereka. Jika ku tukar mereka dengan uangku, aku tak punya sebanyak itu, dan itu artinya sama saja dengan aku menukarkan harga diri uang-uangku. Jika ku ambil mereka dari pria-pria itu, bisa-bisa aku digebuki hingga babak belur, dan mereka tetap diambil kembali.
Kadang kemampuan ini membuatku frustasi karena tidak bisa berbuat apa-apa sedang aku tahu penderitaan mereka. Pada akhirnya aku hanya diam seolah-olah aku tidak mendengar benda-benda itu berbicara. Tapi terkadang ada saja di antara mereka yang mengetahui kalau aku memiliki kemampuan seperti ini. Jadi, mau tidak mau aku harus sedikit berbisik ketika berbicara pada benda-benda itu, agar orang-orang tidak menganggapku aneh atau gila karena nampak berbicara sendiri.
Sebenarnya hampir di setiap waktu pikiranku selalu mencari-cari jawaban apa dan kenapa sebenarnya aku ini, kenapa aku begini sedang orang lain tidak. Banyak yang sudah ku pelajari atau baru sedikit dari sekian informasi yang ku dapat tentang manusia-manusia yang tidak biasa, apakah itu Indigo, Starseed, Rainbow ataukah Crystal. Dan aku tidak yakin termasuk yang mana. Hanya yang pernah ku dengar dari seorang teman saat aku mengutarakan kebingunganku, dia bilang kalau aku mungkin perpaduan Indigo-Crystal.
Satu yang aku garis bawahi, rata-rata orang seperti kami memiliki masa kecil yang tidak mengenakan, keadaan keluarga yang cukup paceklik, pandangan orang yang salah kaprah, kata ‘aneh’ sudah tak asing di telinga kami, di telingaku juga. Perasaan rendah diri, keinginan untuk tiada, mungkin bukan mati, tapi sekadar ingin hilang karena tidak bisa berbuat banyak untuk banyak orang, karena tidak tahu harus bagaimana, dan akhirnya kata-kata yang terpikir hanyalah ‘aku ingin mati’. Rata-rata orang-orang seperti itu memiliki pikiran orang dewasa melebihi usia sebenarnya berdasar akte, tapi terkadang juga moody, seperti aku. Aku orangnya memang mood-mood-an, jadi sulit ditebak, begitu kata teman-temanku. Yang aku tanyakan di sini ‘kenapa?’ kenapa rata-rata catatan hidupnya seperti itu? Ya walaupun ada beberapa yang hidup lancar tanpa hambatan, menjadi seorang jenius, tapi tetap saja bagi mereka tetap ada yang mengganjal.
Aku sempat mendengar beberapa orang –yang tidak memiliki kemampuan-kemampuan ‘aneh’– sedang berbincang-bincang tentang makhluk halus. Salah satu dari mereka berkata kalau ia ingin bisa melihat. Tanpa sadar kuhembuskan nafas panjang, mendengar saja sudah lelah apalagi melihat, pikirku.
Lelah, mungkin karena aku orangnya tidak enakan, merasa semuanya harus baik-baik saja, jadi di saat aku hanya bisa tahu tanpa bisa berbuat apa-apa yang kurasakan hanyalah sakit dan lelah.
Continue Reading
Kejadian ini bukanlah yang pertama. Aku sudah lupa kapan pertama kali aku mengalami semua keanehan ini. Peralatan sekolah yang bisa berbicara, alat-alat elektronik, pohon, binatang, langit, semuanya seolah berbicara dengan ku. Tapi aku tak pernah membicarakan ini pada siapapun semenjak sahabatku memergoki ku sedang berbicara dengan sebuah pohon mahoni besar di depan sekolah. Dia menganggap ku gila, dia tidak mau mendengarkan penjelasan ku. Dan kami tidak pernah bersama-sama lagi, bahkan sekadar bertegur sapa pun tidak.
Kadang aku kasihan mendengar jeritan wajan –yang pantatnya sudah gosong– ketika mama menyiramnya dengan air sebelum badannya benar-benar dingin. Aku bilang, tunggu dingin dulu baru dicuci. Seperti mama yang melarang ku langsung mandi air dingin setelah seharian bermain panas-panasan di luar sana, nanti demam, katanya. Tapi mama tidak mau dengar. Katanya, nanti keburu dicuci sama nenek. Aku Cuma bisa melihatnya saja dari jauh tanpa bisa berbuat apa-apa. Aku juga tidak tega melihat pohon mahoni besar di depan sekolah yang ditebang beberapa hari lalu. Padahal dia yang selalu menyapaku lebih dulu sejak aku masuk sekolah itu. Kata orang yang menebangnya, ini untuk kepentingan bersama, biar bisa merasakan nyamannya penerangan di desa.
Bertahun-tahun aku tinggal di desa, sekarang tempat ini tak terasa mendesa. Sudah tidak ada bedanya dengan kota yang panas penuh polusi dan tentunya tidak sedikit suara-suara yang mengeluh. Bukan orang-orangnya yang mengeluh, tetapi pepohonan dan makhluk-makhluk lainnya.
Kadang ketika tengah malam, saat semua sudah sunyi, aku mendengar rintihan aspal kering yang sedikit gugus di jalan. Katanya, dia tak pernah bisa tenang walau sudah larut. Karena saat malam tiba, tak jarang sekelompok pembalap liar kebut-kebutan di atasnya itu, padahal ia ingin bisa berguna dalam jangka waktu yang panjang.
Awalnya aku merasa sendirian dengan semua keadaan ini. Aku merasa terasing karena tidak bisa berbagi dengan orang lain. Tetapi tak berapa lama dari sana, satu per satu aku bertemu dengan orang-orang yang juga memiliki pengalamann-pengalaman aneh seperti yang aku alami. Dan entah bagaimana, kami bisa saling tahu kalau kami sama. Entah itu sekadar papasan atau hanya bertemu mata, padahal kami sama sekali belum memperkenalkan diri satu sama lain.
Sebagian dari mereka memang tidak bisa berkomunikasi dengan makhluk lain atau benda mati seperti aku, tapi mereka memiliki kelebihan lain yang tidak ku miliki. Misalnya saja mereka bisa melihat dan berkomunikasi dengan makhluk dari dimensi lain, ada yang bisa astral projection –kemampuan untuk keluar dari tubuh, seperti tidur tetapi sebenarnya roh mu sedang melakukan perjalanan– lalu ada juga yang bisa menggerakkan benda-benda dengan kekuatan pikirannya, juga ada yang dapat menyerap kemampuan atau energi orang lain, berteleport dan masih banyak lagi. Kalau kalian pecinta komik atau penikmat film, tentunya kalian pernah menemukan beberapa cerita yang serupa dengan kami. Seperti misalnya saja komik Psychis atau serial Heroes. Dan misi terbesar kami adalah menyelamatkan dunia, ya, seperti itulah. Tapi karena hal itu terdengar terlalu ‘wah’, mustahil, jadi kami lebih suka mengatakannya dengan sebutan lain, ‘menolong sesama’.
Pada suatu hari, aku sedang duduk di warung kecil pinggir jalan sambil menikmati segelas dingin lemon tea. Di meja sebelah duduk dua orang pria dewasa, yang satu nampak separuh baya, rambutnya sudah banyak ditumbuhi uban, perutnya sedikit tambun, dan kumisnya yang cukup lebat berantakan. Satu orang lagi terlihat lebih muda darinya, mungkin sekitar 30-an usianya. Mereka duduk berhadap-hadapan dengan dua cangkir kopi hitam di depan masing-masing pria itu. Keduanya nampak sedang menghitung uang, entah memamerkan beberapa lembar uang seratus ribuan dan lima puluh ribuan di tempat kecil ini. Meski tidak ada perbincangan di antara mereka, aku masih saja mendengar suara-suara kecil mendesis panik. Awalnya ku pikir kedua pria itu berbisik-bisik karena takut uangnya dicuri atau bagaimana, tapi setelah ku tengok ke arah mereka, ternyata bukan. Yang satu tengah asyik mengepulkan asap dari mulutnya sambil membagi uang-uang itu menjadi dua gepok di meja itu.
Karena kurang kerjaan dan rasa penasaranku, akhirnya ku cermati juga suara-suara itu. Ternyata itu adalah suara dari uang-uang milik kedua pria itu. Mereka gelisah karena tidak tahu kapan mereka, mau tidak mau, harus memenuhi hasrat liar pria-pria itu. Entah itu bermain gila dengan wanita-wanita malam, bermain judi, atau sekadar minum-minuman beralkohol. Mereka risih ketika kedua pria itu menumpukan kebejatannya pada mereka. Salah satu dari lembaran-lembaran uang itu meringis. Katanya, harga diri mereka dipertaruhkan selama masih berada di tangan kedua orang itu. Mereka tidak pernah tenang, karena secara tidak langsung mereka dipaksa mengikuti nafsu orang-orang itu untuk berbuat tidak baik. Entah bagaimana cara menolong mereka. Jika ku tukar mereka dengan uangku, aku tak punya sebanyak itu, dan itu artinya sama saja dengan aku menukarkan harga diri uang-uangku. Jika ku ambil mereka dari pria-pria itu, bisa-bisa aku digebuki hingga babak belur, dan mereka tetap diambil kembali.
Kadang kemampuan ini membuatku frustasi karena tidak bisa berbuat apa-apa sedang aku tahu penderitaan mereka. Pada akhirnya aku hanya diam seolah-olah aku tidak mendengar benda-benda itu berbicara. Tapi terkadang ada saja di antara mereka yang mengetahui kalau aku memiliki kemampuan seperti ini. Jadi, mau tidak mau aku harus sedikit berbisik ketika berbicara pada benda-benda itu, agar orang-orang tidak menganggapku aneh atau gila karena nampak berbicara sendiri.
Sebenarnya hampir di setiap waktu pikiranku selalu mencari-cari jawaban apa dan kenapa sebenarnya aku ini, kenapa aku begini sedang orang lain tidak. Banyak yang sudah ku pelajari atau baru sedikit dari sekian informasi yang ku dapat tentang manusia-manusia yang tidak biasa, apakah itu Indigo, Starseed, Rainbow ataukah Crystal. Dan aku tidak yakin termasuk yang mana. Hanya yang pernah ku dengar dari seorang teman saat aku mengutarakan kebingunganku, dia bilang kalau aku mungkin perpaduan Indigo-Crystal.
Satu yang aku garis bawahi, rata-rata orang seperti kami memiliki masa kecil yang tidak mengenakan, keadaan keluarga yang cukup paceklik, pandangan orang yang salah kaprah, kata ‘aneh’ sudah tak asing di telinga kami, di telingaku juga. Perasaan rendah diri, keinginan untuk tiada, mungkin bukan mati, tapi sekadar ingin hilang karena tidak bisa berbuat banyak untuk banyak orang, karena tidak tahu harus bagaimana, dan akhirnya kata-kata yang terpikir hanyalah ‘aku ingin mati’. Rata-rata orang-orang seperti itu memiliki pikiran orang dewasa melebihi usia sebenarnya berdasar akte, tapi terkadang juga moody, seperti aku. Aku orangnya memang mood-mood-an, jadi sulit ditebak, begitu kata teman-temanku. Yang aku tanyakan di sini ‘kenapa?’ kenapa rata-rata catatan hidupnya seperti itu? Ya walaupun ada beberapa yang hidup lancar tanpa hambatan, menjadi seorang jenius, tapi tetap saja bagi mereka tetap ada yang mengganjal.
Aku sempat mendengar beberapa orang –yang tidak memiliki kemampuan-kemampuan ‘aneh’– sedang berbincang-bincang tentang makhluk halus. Salah satu dari mereka berkata kalau ia ingin bisa melihat. Tanpa sadar kuhembuskan nafas panjang, mendengar saja sudah lelah apalagi melihat, pikirku.
Lelah, mungkin karena aku orangnya tidak enakan, merasa semuanya harus baik-baik saja, jadi di saat aku hanya bisa tahu tanpa bisa berbuat apa-apa yang kurasakan hanyalah sakit dan lelah.
***\
02 Februari 2012
16 Januari 2012
13 Januari 2012
Secuil kisah pembangkangan
Januari 13, 2012
Curanmor,
Tiba-tiba aku teringat kamu, seseorang yang pernah singgah di hatiku meski hanya sebentar. Semoga saja kamu masih ingat cerita kilat antara kita. Jika saja waktu dan keadaan tidak demikian kejam menciptakan jarak antara kita, entah apa jadinya hubungan kita. Kemudian waktu mempertemukan kita meski hanya di dunia maya..Kamu masih saja sama seperti dulu, tidak berubah sedikitpun. Kegeramanmu pada institusi pendidikan kemudian membawamu pada pilihan untuk tidak menyelesaikan kuliahmu. Aku tahu, dan semua orang pun tahu kamu bukanlah orang bodoh, sehingga dikeluarkan dari sekolah. Kamu cerdas, teramat cerdas malah. Kamu sendiri yang memilih itu.
CURCOL
Januari 13, 2012
Curanmor,
"Pernikahan bukanlah sebuah tamasya panjangmu ke negeri surga,Dan ia bukanlah angin sepoi-sepoi yg kan selalu dapat menerbangkan sayap cintamu di kelembutan istana awan,Ia adalah batu bata yg menyusun dasar pondasi hidupmu dengan serta merta,Di saat dermaga hatimu terasa telah terpenuhi oleh bahtera cintanya,Hingga bagimu tak ada lagi tempat yg tersisa untuk menerima kehadiran biduk-biduk cinta yg lain",
Continue Reading
30 Desember 2011
Kecoa Ajojing
Suatu hari disebuah sarang yang biasa aja didalam rumah kosong yang juga biasa-biasa aja dalam sebuah kota yang sangat biasa saja dalam sebuah Negara yang luar biasa biasa saja, hiduplah seekor kecoa dan keluarga besranya, keluar besar mereka bernama keluarga Kecoa (Kecoklatan dan Tua).
![]() |
| - |
Awalnya kehidupan keluarga kecoa tentram-tentram saja sampai pada suat waktu datang penghuni baru yang dikemudian hari membawa petaka besar bagi keluarga mereka. Penghuni baru ini adala keluarga yang super sangat tidak biasa saja, terdiri dari suami istir yang perfectionist abis dan tiga ekor anak setan a.k.a tiga biji anak manusia yang kenakalannya setingka dewa petir, Maka, inilah akhir dari kehidupan biasa-biasa saja dalam cerita pendek ini menuju awal kehidupan ironi para anggota keluarga besar Kecoa.
Hmm mengapa ironis dan apa pentinggnya kehidupan seekor kecoa?
Nah. Inilah kesalahan manusia abad ini, mana bisa para manusia menghargai Hak asasi manusia sementar hal-hal kecil seperti Hak Asasi Kecoa saja masih enggan dihargai?!
Lanjut cerita. Para anggota keluarga kecoa terbunuh oleh tigak anak setan (anak manusia) dengan sadis dan tidak berprikecoaan, ada yang terinjak, tenggelam , gugur dipenggorengan bahkan mati terkena upil, dan akhirnya setelah pembantian yang tidak kecoawi itu, yang tersisa tinggal Pak Coad an Tiga nak coa, Pertanyaannya, mana Bu Coa? Terbunuh kah? Tentu tidak. Bu Coa meninggal waktu melahirkan nak Coa yang notabene kembar tiga.
Pak Coa yang asalnya tegar tentu tak kuasa menahan perih lalu mengelulah ia pada tuhan
27 Desember 2011
Yang Ku kenang dengan singkat
Aku tidak tau sudah berapa lama berdiam disini, didepan pusara meniti angina penghantar aroma kaboja dengan seruak lupa, perlahan menghembus pada indra pada rasa yang tak lagi peka,
Saat kuamati kau yang tertidur selelap gelap diujung batang pohon tua itu, aku ingin sekali memeluk kau yang bersandar pada pohon bersemak belukar, inginnnya aku menciumi keningmu seperti dulu, seperti saat nafas memburu kita bersatu, saling mencinta dalam semu. Lekuk tubuh gontai kita yang terbaca kata dan hanya saling mendalam makna sebuah cinta.
Continue Reading
TAKAN BERAKHIR DISNI
Kemudian kita putuskan
Menulis lamaran
Kemudian
Setelah lelah mencari-cari lowongan
Dibawah Terik Matahari
Disela gaduh bongkar muat peti kemas
Continue Reading
Menulis lamaran
Kemudian
Setelah lelah mencari-cari lowongan
Dibawah Terik Matahari
Disela gaduh bongkar muat peti kemas
Continue Reading
Bela Rakyat Bukan Tembak Rakyat
Rangakaian kejahatan kemanusian silih berganti mengisi layar televise, kisah-kisah tragis aparat yang lebih suka membela kepentingan pemodal timbang rakyat menerbangkan ingatan jauh kebelakangan, tentang rangkaian pembantaian orang desa dari 1965-2011 hilir mudik dalam kepala.
Nyatanya ucapan seperti ini menjadi pembenaran bahwa Negara memang becus merampok rakyatnya ketimbang membela hak-hak rakyat, Negara lebih fasih membela para pemilik modal karena Negara hari ini selain dibiayai oleh konsumsi utang juga diekndalikan oleh korporasii, dimana perusahaan-perusahan lebih mempunyai peran dalam mengatur apa yang layak dan tidak layak.
Continue Reading
25 Desember 2011
Pendidikan Anak Usia Dini ^_^
Desember 25, 2011
Celoteh Receh Tidak Teoritis Dan Ilmiah,
Curanmor,
Mapati,
“Bunda, memek itu apa sih?” tanya bento, bocah cilik berusia tiga setengah tahun.
Mita terperangah mendengar pertanyaan anaknya. Mukanya memerah. Tapi, melihat gairah ingin tahu anaknya yang sedang memuncak, Mita menjawab hanya dengan menunjuk perutnya.
”Kalo kontol yang mana?”
Mita memegang betisnya sembari berharap bento menghentikan pertanyaannya.

Keesokan harinya. mita yang sedang sakit perut, berbaring di kamar. Sementara oji suaminya sedang mencuci betisnya, sepulang dari ladang.
”Bapak ada?” tanya seorang berpeci haji, dengan baju koko dan sarung suteranya.
”Bapak lagi nyuci kontol di WC,” jawab bento sekenanya.
”Ibumu mana?”
”Ibu lagi sakit memek.”
”Astaghfirullah,” seru tamu sambil bergegas pergi. Continue Reading
Mita terperangah mendengar pertanyaan anaknya. Mukanya memerah. Tapi, melihat gairah ingin tahu anaknya yang sedang memuncak, Mita menjawab hanya dengan menunjuk perutnya.
”Kalo kontol yang mana?”
Mita memegang betisnya sembari berharap bento menghentikan pertanyaannya.
Keesokan harinya. mita yang sedang sakit perut, berbaring di kamar. Sementara oji suaminya sedang mencuci betisnya, sepulang dari ladang.
”Bapak ada?” tanya seorang berpeci haji, dengan baju koko dan sarung suteranya.
”Bapak lagi nyuci kontol di WC,” jawab bento sekenanya.
”Ibumu mana?”
”Ibu lagi sakit memek.”
”Astaghfirullah,” seru tamu sambil bergegas pergi. Continue Reading
Langganan:
Postingan (Atom)
Designed By: Blogger Templates | gnulinux.org







